Aku segera membawanya ke dokter. Tapi, entah mengapa aku mulai berfikir.
"Dapat dari mana uangnya?"
"Tapi. adikku?"
Aku mulai cemas kembali. Keringat dingin menyambar tubuhku. Berharap akan ada keajaiban yang datang. Tapi, apakah segampang itu?
Adikku. Sadarlah. Kakakmu ini menunggu. Aku tetep berfikiran positif. Aha! Aku punya ide. Bu Sara. Ya! dia satu satunya harapan. Aku akan meminta gajiku padanya. Tapi, bagaimana caranya? menelfon? Aku tidak punya. Pergi ke rumahnya? terlalu jauh.
"Baru setengah"
"setengahnya lagi"
"Akhirnya berada di rumahnya"
Aku memutuskan untuk pergi ke rumah bu Sara.
"Permisi"
"Apakah ada orang?"
"Ya ada siapa ya?"
"Velo, Nyonya"
"Velo? Oh, silahkan masuk?"
"Ada perlu apa?"
Setelah lama berbincang. Akhirnya aku mendapatkan uangnya. Aku bergegas lari. Sampai rumah, aku melihat banyak kerumunan orang? Buat apa mereka di sana?. Dan, bagaimana adikku?
-Velonia-
Harusnya kamu tidak meniggalkan adikmu sendiri di sana
By: Alya Hamidatul Sida
bagaimana adikmu??
BalasHapus