Senin, 13 Juni 2011

Sepenggal kisah karyaku

"Memangnya tidak boleh ya kalau orang miskin berteman dengan orang kaya?"
"Masa tidak boleh?" 
"Persahabatan itu kan, tidak mengenal apa apa?"
"Mengapa kakak begitu menyesalinya?"
"Aku seperti kakak tapi, sahabatku tidak begitu?"
"Aku percaya bahwa setiapa orang menginginkan persahabatan sejati"
"Kakak... dimana kau berada?"
"Masa hanya karena Almie kakak jadi kayak gini?"
"Dimana kakakku yang dulu?"

Ocehan adekku tidak terlalu kupedulikan. Aku memang seorang yang miskin. Tidak pantas bersahabat dengan orang kaya. Ya! temanku Almie menjauh dariku. Karena aku tidak punya apa apa. Hanya karena itu. Aku tidak megerti apa itu persahabatan sekarang. 

"Ya tuhan.. "
"Bagaimana caranya untuk melampiaskan semua kemarahanku pada Almie?"
"Aku tidak mau mendengar suara tangisanku lagi"
"Apalagi mendengar suara tangisan adikku yang sangat ku cintai"
"Ya tuhan..."
"Tolonglah aku"
"Aku mencintai Almie"
"Begitu juga adikku"
"Tapi, aku tidak mencintai diriku"
"Aku sungguh menyesali keadaanku yang sekarang"

"Anakku"

"Ibu.."

"Ya ibu disini"

"Bagaimana ibu..."
Omonganku terputus

"ssstttt.. ibu selalu memperhatikanmu"
"Yang sabar ya nak"
"Tuhan selalu mlindungi kalian"
"Yakinlah, berdoalah kepada yang di atas"
"Saat ini Almie sedang merindukanmu"

"Tidak mungkin bu..."

"Sebenarnya Almie ingin terus bersamamu"
"Mungkin sampai maut yang memisahkan"

"Apa maksudnya?"

"Cepat susul dia. Dia akan senang jika dikunjungimu"

"Baik bu.. Tapi ibu?"

"Tenanglah ibu sudah bahagia di atas sana melihatmu bahagia"

Ibu melempar senyum cantiknya di hadapanku. Akupun membalasnya. Aku tak percaya ibu kembali. Mungkin tuhan yang mengirimnya. Aku belum mengerti apa yang dikatakan ibu. Namun, segera ku berganti baju dan pergi ke rumah Almie. 

Betapa terkejutnya aku. Air mataku mengalir dengan derasnya. Almie... Tidak ku sangka. Maafkan aku. Aku mengerti. Aku tidak akan melupakanmu sahabat terbaikku. 
Almie segera dibawa ke rumah sakit. Dia begitu kaku. Tapi, dia tetap bisa melihatku. Saat saat terakhir dalam hidupnya. Telah terbayar. Dia bisa pergi dengan tenang.

Maafkan aku sahabatku. Aku selalu disini menemanimu selamanya. Hanya maut yang dapat memisahkan kita  sedikit kata kata yang terucap dari dirimu. Aku maklumi

"Velo, tetapa ingat aku ya"
"Aku selalu ingin menangis mengingat masa indah kita dulu"
"Bebagi, tertawa, apalagi memanjat pohon dan bersanda gurau di rumah pohon"
"Tapi sekarang, aku hanya bisa melihatmu sahabat terbaikku sepanjang hidupku"

Air mataku tumpah. Dia pergi sambil memegang erat tubuhku. Persis seperti ibu memelukku dulu. Sekarang yang masih ku punya hanya adikku. Adik kecilku yang manis "Stella" jangan kau tinggalkan aku seperti ibu dan sahabatku. 

                                                                                                                  -Velonia-
Meskipun sahabatmu ada 5 ataupun 10 pasti ada satu orang yang terdekat denganmu 
By: Alya Hamidatul Sida      


Tidak ada komentar:

Posting Komentar