Jumat, 17 Juni 2011

Velonia (Part 3)

Aku segera membawanya ke dokter. Tapi, entah mengapa aku mulai berfikir.
"Dapat dari mana uangnya?"
"Tapi. adikku?"
Aku mulai cemas kembali. Keringat dingin menyambar tubuhku. Berharap akan ada keajaiban yang datang. Tapi, apakah segampang itu?
Adikku. Sadarlah. Kakakmu ini menunggu. Aku tetep berfikiran positif. Aha! Aku punya ide. Bu Sara. Ya! dia satu satunya harapan. Aku akan meminta gajiku padanya. Tapi, bagaimana caranya? menelfon? Aku tidak punya. Pergi ke rumahnya? terlalu jauh.
"Baru setengah"
"setengahnya lagi"
"Akhirnya berada di rumahnya"
Aku memutuskan untuk pergi ke rumah bu Sara.
"Permisi"
"Apakah ada orang?"

"Ya ada siapa ya?"

"Velo, Nyonya"

"Velo? Oh, silahkan masuk?"
"Ada perlu apa?"

Setelah lama berbincang. Akhirnya aku mendapatkan uangnya. Aku bergegas lari. Sampai rumah, aku melihat banyak kerumunan orang? Buat apa mereka di sana?. Dan, bagaimana adikku?


                                                                                             -Velonia-
Harusnya kamu tidak meniggalkan adikmu sendiri di sana
By: Alya Hamidatul Sida

Selasa, 14 Juni 2011

Velonia (Part 2)

Seperti biasa aku menjalankan hari hariku dengan sempurna. Setelah kuliah, pergi ke rumah bu Sara untuk membantunya berberes rumah. Aku bekerja membantunya di rumah beliau untuk menambah penghasilan. Kemudian aku langsung bergegas ke restoran tempatku bekerja. Setiap hari kegiatanku tidak berubah kecuali, hari libur. Aku akan memanfaatkan hari liburku bersama adikku.
"Stella apakah kau sudah membereskan rumah?" ujarku setelah pulang

"Seperti yang kau lihat," ujarnya bangga
"Aku sudah membereskan kamar tidur, kamar mandi, ruang tengah, serta dapur"
"Kakak mau aku buatkan apa?"
"Kakak pasti lelah"

"Ya! terimakasih"
"Kakak masih bisa sendiri" Aku menolak melihatnya berharap
Bagaimana juga dia masih kecil tidak pantas memperlakukan aku seperti ini. Kadang, aku suka melihat dia kelelahan. Tidak tega rasanya. Dia juga suka mengeluh.

"Kakak. Hari ini kita akan pergi kemana?" tanyanya
Dia selalu menugguku pergi jalan jalan bersama. Setelah banyak tundaan akhirnya aku bisa pergi denganya.

"Kita ke taman saja ya!" ujarku

"Yaaa aku selalu menuggu itu"
Ya. Akhirnya adikku mau juga. Entah dia keberatan atau tidak. Aku tetap mengajaknya

Setelah pulang aku langsung berbaring di atas sofa yang sudah reot. Setelah beberapa saat aku baru sadar. Adikku? adikku mana?
"Stella"
"Stella"
"Tolong jawab kakak "
Aku mulai cemas. Aku sudah memeriksa ke semua tempat. Kecuali satu. PINTU MASUK. Dan, benar saja dia ada di situ. Tergeletak dengan lemasnya. Ada apa dengan dia. Sebelumnya tak pernah begini. Aku menggigit jariku.

"Ya tuhan,,"
"Bagaimana ini?"
"Aku tidak bisa apa apa"
Air mataku tumpah....


                                                                                                             -Velonia-


Bagaimanapun juga dia adikmu
By: Alya Hamidatul Sida

Senin, 13 Juni 2011

Sepenggal kisah karyaku

"Memangnya tidak boleh ya kalau orang miskin berteman dengan orang kaya?"
"Masa tidak boleh?" 
"Persahabatan itu kan, tidak mengenal apa apa?"
"Mengapa kakak begitu menyesalinya?"
"Aku seperti kakak tapi, sahabatku tidak begitu?"
"Aku percaya bahwa setiapa orang menginginkan persahabatan sejati"
"Kakak... dimana kau berada?"
"Masa hanya karena Almie kakak jadi kayak gini?"
"Dimana kakakku yang dulu?"

Ocehan adekku tidak terlalu kupedulikan. Aku memang seorang yang miskin. Tidak pantas bersahabat dengan orang kaya. Ya! temanku Almie menjauh dariku. Karena aku tidak punya apa apa. Hanya karena itu. Aku tidak megerti apa itu persahabatan sekarang. 

"Ya tuhan.. "
"Bagaimana caranya untuk melampiaskan semua kemarahanku pada Almie?"
"Aku tidak mau mendengar suara tangisanku lagi"
"Apalagi mendengar suara tangisan adikku yang sangat ku cintai"
"Ya tuhan..."
"Tolonglah aku"
"Aku mencintai Almie"
"Begitu juga adikku"
"Tapi, aku tidak mencintai diriku"
"Aku sungguh menyesali keadaanku yang sekarang"

"Anakku"

"Ibu.."

"Ya ibu disini"

"Bagaimana ibu..."
Omonganku terputus

"ssstttt.. ibu selalu memperhatikanmu"
"Yang sabar ya nak"
"Tuhan selalu mlindungi kalian"
"Yakinlah, berdoalah kepada yang di atas"
"Saat ini Almie sedang merindukanmu"

"Tidak mungkin bu..."

"Sebenarnya Almie ingin terus bersamamu"
"Mungkin sampai maut yang memisahkan"

"Apa maksudnya?"

"Cepat susul dia. Dia akan senang jika dikunjungimu"

"Baik bu.. Tapi ibu?"

"Tenanglah ibu sudah bahagia di atas sana melihatmu bahagia"

Ibu melempar senyum cantiknya di hadapanku. Akupun membalasnya. Aku tak percaya ibu kembali. Mungkin tuhan yang mengirimnya. Aku belum mengerti apa yang dikatakan ibu. Namun, segera ku berganti baju dan pergi ke rumah Almie. 

Betapa terkejutnya aku. Air mataku mengalir dengan derasnya. Almie... Tidak ku sangka. Maafkan aku. Aku mengerti. Aku tidak akan melupakanmu sahabat terbaikku. 
Almie segera dibawa ke rumah sakit. Dia begitu kaku. Tapi, dia tetap bisa melihatku. Saat saat terakhir dalam hidupnya. Telah terbayar. Dia bisa pergi dengan tenang.

Maafkan aku sahabatku. Aku selalu disini menemanimu selamanya. Hanya maut yang dapat memisahkan kita  sedikit kata kata yang terucap dari dirimu. Aku maklumi

"Velo, tetapa ingat aku ya"
"Aku selalu ingin menangis mengingat masa indah kita dulu"
"Bebagi, tertawa, apalagi memanjat pohon dan bersanda gurau di rumah pohon"
"Tapi sekarang, aku hanya bisa melihatmu sahabat terbaikku sepanjang hidupku"

Air mataku tumpah. Dia pergi sambil memegang erat tubuhku. Persis seperti ibu memelukku dulu. Sekarang yang masih ku punya hanya adikku. Adik kecilku yang manis "Stella" jangan kau tinggalkan aku seperti ibu dan sahabatku. 

                                                                                                                  -Velonia-
Meskipun sahabatmu ada 5 ataupun 10 pasti ada satu orang yang terdekat denganmu 
By: Alya Hamidatul Sida      


Minggu, 12 Juni 2011

I might become a.....

Dulu waktu kecil aku bercita cita ingin menjadi guru. Waktu agak besar dokter. Sekarang lebih milih jadi reporter or designer. Yang bener yang mana? Bisa jadi kalau sudah dewasa berubah lagi. Tapi insyaallah aku tetap pada pendirian ku "REPORTER DAN DESIGNER". Tadinya aku sama sekali gak suka acara berita. Tapi, setelah cita citaku pergi ke luar negri aku harus bisa menjadi reporter yang handal tentunya. Aku bertekad akan menjadi Reporter perempuan luar negri berjilbab pertama. Untuk membanggakan Indonesia. Kalo designer alasannya apa ya? aku paling suka menghias sesuatu menjadi lebih bagus. Jadi sekarang, aku mulai menciptakan sesuatu yang bermanfaat kelak. Mungkin dulu, aku memilih dokter karena penghasilannya banyak tapi, aku sadar bahwa bakat aku tidak di sana. Kalaupun bisa, aku tidak niat untuk melakukannya. Teman.. apapun cita cita kalian gapailah itu. Anggaplah seperti bintang yang bersinar di langit dan kamu mau membawa pulang bintang itu. Jangan sepertiku tidak percaya diri untuk melakukannya. Jika besar nanti anggaplah cita citamu sebagai jalan untuk menuju masa depan yang cemerlang. Jalan yang lurus seperti jalan tol. Bukan seperti jalan gang yang sempit. Aku dukung kalian. Still spirit!  Do your best!



                                                                                                                                  -Alya-